Thursday, 07 May 2026
Kategori
News

Relevansi Pendidikan Tinggi dan Ancaman Penghapusan Prodi

Relevansi Pendidikan Tinggi dan Ancaman Penghapusan Prodi

Opini Mahasiswa tentang Wacana Penghapusan Prodi yang Dianggap Tidak Relevan dengan Industri
Oleh: Muhamad Fahri Ardian Mahasiswa Semester 6 Pendidikan Masyarakat Universitas Ibn Khaldun Bogor

Wacana pemerintah mengenai penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menurut saya menjadi isu yang cukup sensitif di dunia pendidikan tinggi. Sebagai mahasiswa Pendidikan Masyarakat, saya memahami bahwa kampus memang perlu mengikuti perkembangan zaman, terutama di era teknologi dan persaingan kerja yang semakin ketat. Namun, ketika ukuran relevansi pendidikan hanya dilihat dari kebutuhan industri dan pasar kerja, saya merasa ada nilai penting dari pendidikan yang perlahan mulai dilupakan. Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga membentuk cara berpikir, kepekaan sosial, dan kemampuan mahasiswa dalam memahami persoalan masyarakat.

Saya melihat persoalan utama saat ini sebenarnya bukan terletak pada banyaknya program studi yang dianggap kurang relevan, melainkan pada kondisi lapangan kerja yang masih terbatas. Banyak lulusan perguruan tinggi dari berbagai jurusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, bahkan dari jurusan yang selama ini dianggap paling dibutuhkan industri. Artinya, masalah pengangguran tidak bisa disederhanakan hanya dengan menilai suatu jurusan berguna atau tidak. Karena pada kenyataannya, sebanyak apa pun lulusan yang disiapkan kampus, jika kesempatan kerjanya belum memadai maka tetap akan terjadi ketimpangan antara pendidikan dan dunia kerja.

Di sisi lain, saya merasa program studi sosial dan humaniora sering kali menjadi pihak yang paling mudah dianggap tidak penting. Padahal, jurusan seperti sejarah, komunikasi, filsafat, hingga pendidikan masyarakat memiliki peran besar dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Tidak semua kontribusi pendidikan bisa diukur dengan angka industri atau kebutuhan pasar. Ada banyak persoalan di masyarakat yang justru membutuhkan pendekatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan. Dalam konteks ini, lulusan Pendidikan Masyarakat misalnya, memiliki peran untuk menjadi fasilitator, pendamping masyarakat, maupun penggerak perubahan sosial di lingkungan sekitar.

Menurut saya, kampus juga seharusnya tidak kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat berkembangnya daya kritis mahasiswa. Saat ini, banyak mahasiswa mulai diarahkan hanya untuk cepat lulus, magang, lalu bekerja. Hal tersebut memang penting, tetapi pendidikan seharusnya tidak berhenti pada urusan mencari pekerjaan saja. Mahasiswa juga perlu diberikan ruang untuk berdiskusi, berpikir kritis, memahami realitas sosial, dan mencari solusi terhadap persoalan yang ada di masyarakat. Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa cepat ia mendapat pekerjaan, tetapi juga dari bagaimana ia mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Saya setuju bahwa kurikulum di perguruan tinggi perlu diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman. Kampus juga perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan tambahan, kemampuan teknologi, pengalaman magang, dan kerja sama dengan dunia industri. Namun, pembaruan tersebut sebaiknya dilakukan tanpa harus menghapus program studi tertentu. Yang perlu diperkuat adalah kualitas pembelajarannya, bukan justru menghilangkan bidang ilmu yang sebenarnya masih dibutuhkan masyarakat.

Pada akhirnya, saya melihat pendidikan tinggi harus tetap dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas manusia Indonesia, bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Pemerintah memang perlu memikirkan relevansi pendidikan dengan perkembangan industri, tetapi di saat yang sama juga harus memastikan bahwa pendidikan tetap memiliki nilai sosial, kemanusiaan, dan ruang untuk membangun pemikiran kritis. Karena jika pendidikan hanya diarahkan untuk kepentingan industri, maka kampus akan kehilangan identitasnya sebagai tempat lahirnya ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.